PENGUMUMAN
Nomor : Peng- 01/WPJ.11/BD.0501/2009
LOMBA ESAI DAN LOMBA DESAIN POSTER PERPAJAKAN
TINGKAT SMA/ MA/ SMK SE-KOTA SURABAYA
TAHUN 2009

I. KETENTUAN UMUM
1. Peserta adalah perorangan yang merupakan siswa-siswi SMA/ MA/ SMK di wilayah Kota Surabaya.
2. Setiap peserta hanya diperkenankan mengikuti/ mengirimkan 1 (satu) karya.
3. Setiap sekolah diperkenankan mengirimkan lebih dari 1 (satu) peserta.
4. Keputusan Dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
5. Setiap karya yang masuk menjadi hak milik panitia dan dapat dipergunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam kegiatan apapun
6. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sdri. Supri Andayani atau Oryza Aprilia Telp. 031.8481131

II. LOMBA ESAI
1. Tema: ”Pajak Di Mata Generasi Muda”
2. Teknis penulisan: ditulis dalam Bahasa Indonesia, menggunakan MS Word, huruf Arial, ukuran 11, spasi 1,5; 3-5 halaman kertas A4
3. Tidak diperkenankan menggunakan nama samaran.
4. Kriteria Penilaian: kesesuaian dengan tema; substansi; orisinalitas ide; dan pemakaian bahasa.
5. Esai dikirimkan kepada Panitia melalui email: esai.pajak@gmail.com paling lambat tanggal 30 November 2009 jam 24.00 WIB. Disertai dengan data peserta sebagaimana terlampir.
6. Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah akan dilakukan pada acara Lomba Desain Poster tanggal 08 Desember 2009.

III. LOMBA DESAIN POSTER
1. Tema: ”Membangun Bangsa Lewat Pajak”
2. Peserta diminta untuk mendaftarkan diri paling lambat tanggal 30 November 2009 jam 14.00 WIB kepada:
Panitia Lomba Desain Poster Perpajakan
Bidang P2Humas Kanwil DJP Jawa Timur I
Jalan Jagir Wonokromo nomor 104, lantai 6, Surabaya
dengan membawa formulir pendaftaran (terlampir)
3. Peserta lomba dibatasi 100 orang pendaftar
4. Lomba akan diadakan pada tanggal 08 Desember 2009 di Atrium City of Tomorrow Surabaya mulai jam 12.00 WIB
5. Ketentuan karya:
- Karya merupakan hasil kerja individual, dibuat secara manual pada saat lomba berlangsung,
- Karya dibuat diatas kertas ukuran kertas A3 (disediakan Panitia)
- Teknis dan gaya visualisasi bebas, ide orisinal, tidak memakai elemen yang melanggar hak cipta dan etika pembuatan karya cipta (bukan tiruan atau jiplakan).
- Isi poster tidak mengarah kepada pornografi dan SARA.
- Semua alat/ media untuk mendesain poster dibawa/ disediakan sendiri oleh peserta.
6. Kriteria penilaian:Kesesuaian dengan Tema, Orisinalitas Karya, Artistik Visual, Komunikatif, Inovatif,

IV. HADIAH
Hadiah berupa Trophy, Piagam Penghargaan dan Uang Pembinaan, sebesar:
A. Lomba Esai Perpajakan
Juara I : Rp. 3.000.000
Juara II : Rp. 2.000.000
Juara III : Rp. 1.500.000
Juara Harapan I : Rp.600.000
Juara Harapan II : Rp.500.000
Juara Harapan III : Rp.400.000

B. Lomba Desain Poster Perpajakan
Juara I : Rp. 2.500.000
Juara II : Rp. 1.500.000
Juara III : Rp. 1.000.000
Juara Harapan I : Rp.600.000
Juara Harapan II : Rp.500.000
Juara Harapan III : Rp.400.000
Pajak Penghasilan ditanggung oleh Pemenang

Surabaya, 30 Oktober 2009
ttd Kepala Kantor Wilayah DJP Jawa Timur I

———————–
Lampiran:

DATA PESERTA LOMBA ESAI PERPAJAKAN

Identitas Peserta:
Nama :
NISN :
Kelas :
Alamat Email :
Nomor Telp/ HP :

Identitas Sekolah:
Nama Sekolah :
Alamat Sekolah :
Nomor Telepon : (031)
Nomor Faksimili : (031)

Judul Karya :

————————
FORMULIR PENDAFTARAN LOMBA DESAIN POSTER

Identitas Peserta:
Nama :
NISN :
Kelas :
Alamat Email :
Nomor Telp/ HP :

Identitas Sekolah:
Nama Sekolah :
Alamat Sekolah :
Nomor Telepon : (031)
Nomor Faksimili : (031)

Mengetahui,
Kepala Sekolah

……………
NIP

Sumber: Peng-01/WPJ.11/BD.0501/2009 tanggal 30 Oktober 2009
keterangan: kutipan ini hanya memudahkan bagi pencari informasi di internet, harap melihat pengumuman resmi (hardcopy)

Oleh: ayopeduli | 6 November 2009

Zamzam, Gambaran Semangat Memberi

BEBERAPA hari menjelang Rasulullah saw. mangkat, para istrinya berkumpul dan bertanya, “Setelah Rasulullah wafat nanti, siapa di antara istri-istrimu yang paling pertama meninggal dunia sehingga menjadi orang pertama menemanimu?” Rasulullah pun menjawab, “Orang yang paling panjang tangannya.” Orang yang panjang tangannya artinya orang yang paling banyak memberikan derma.
Beberapa tahun sesudah Rasulullah wafat, ternyata istri beliau yang paling pertama meninggal adalah Juwairiyah binti Harits. Ia keturunan ningrat dari Bani Mustaliq yang dinikahi Rasulullah setelah ayahnya tewas dalam Perang Al-Muraisi`. Sebagai wanita, Juwairiyah memiliki keterampilan menjahit, bahkan dari keterampilannya ini beliau mampu menghasilkan uang yang cukup.
Rupanya, ungkapan Rasulullah sebelum meninggal benar, Juwairiyah adalah wanita yang amat sangat suka berderma. Semua uang hasil usahanya dihabiskan untuk menolong orang lain. Meskipun mampu hidup berkecukupan, tapi Juwairiyah memilih hidup sederhana. Bahkan sumbangan dari Khalifah sesudah Nabi mangkat pun didermakan kepada orang yang membutuhkan. Itulah sebabnya, beliau dijuluki “Barrah”, julukan yang hampir sama dengan “mabrur” bagi jemaah haji.
Sifat Juwairiyah tak lepas dari sikap Nabi yang selalu memberikan apa pun yang dibutuhkan oleh orang lain, baik dalam keadaan longgar maupun kedaan sempit. Menjelang wafatnya, Rasulullah sempat koma selama seminggu. Saat siuman, beliau bertanya kepada putrinya, Fatimah. “Wahai Fatimah, di mana emas beberapa gram yang aku titipkan kepadamu?” Dengan gugup Fatimah menjawab, “Ada. Ini masih ada Ya Rasulallah.”
Mendengar jawaban bahwa emas yang dititipkan masih utuh, Rasulullah pun marah luar biasa. Maka, beliau bersabda, “Saya harus berkata apa ketika menghadap Allah masih membawa harta benda seperti itu?” Artinya Rasulullah saat meninggal tidak ingin meninggalkan harta sedikit pun. Maka Fatimah pun kemudian membagikan emas itu kepada orang yang membutuhkan.
Demikianlah kemuliaan hati Muhammad saw. yang lebih suka memberi daripada menerima, apalagi meminta-minta. Beliau selalu memberikan apa pun yang dimiliki kepada setipa orang yang membutuhkan. Sikap Rasulullah tak terlepas dari sifat nenek moyangnya, Siti Hajar yang mewariskan sikap mulia itu. Istri Nabi Ibrahim a.s. ini telah mewariskan Zamzam untuk manusia dan kemanusiaan.
Alkisah, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk membawa istri keduanya, Siti Hajar bersama putranya, Ismail, ke lembah yang tandus di tengah padang Arab. Sesampainya di tujuan tersebut, Ibrahim hendak meninggalkan istri dan anaknya. Siti Hajar pun sempat menyusul suaminya sembari memegang kendali ontanya karena ketakutan ditinggal sendirian.
“Wahai suamiku, hendak ke mana engkau?” kata Siti Hajar gemetaran. Ibrahim tak tahan mendengar ungkapan istrinya yang mengiba. “Ini karena perintah Allah.”

Siti Hajar merupakan wanita yang taat. Maka apa pun yang menjadi keputusan suaminya, ia tak menolaknya. Persoalannya, setelah Ibrahim pergi, anaknya terus menerus menangis akibat memerlukan minum. Padang pasir yang panas dan tandus membuat Siti Hajar panik. Ia terus mencari sumber air. Saat berdiri di Bukit Safa ia melihat fatamorgana yang seakan-akan ada air di Bukit Marwa. Ia secara tergesa-gesa lari ke Bukit Marwa. Dari Marwa ia melihat seakan-akan ada air di Bukit Safa. Begitulah ia bolak-bolak antara Bukit Safa dan Marwa sebanyak 7 kali.
Ketika Siti Hajar panik dan nyaris putus asa, ia kemudian berjalan kaki beberapa meter dari arah Bukit Safa dan Marwa itu. Tiba-tiba ia menemukan air mengalir dari dalam tanah. Itulah yang ia namakan Zamzam. Sejak ada air, banyak masyarakat berdatangan ke tempat tersebut. Itulah awal Kota Mekah. Siti Hajar pun menyumbangkan air kepada siapa pun yang memerlukannya.
Air Zamzam itu kini masih ada dan telah diminum jutaan, miliaran, bahkan triliunan orang. Meskipun berada di wilayah yang jarang sekali turun hujan, Zamzam belum pernah mengalami kekeringan. Selain menjadi minuman bagi penduduk Mekah dan Arab Saudi, Zamzam juga diminum oleh bangsa-bangsa lain yang yang memerlukannya. Bahkan, setiap jemaah haji membawa air Zamzam sebagai oleh-oleh.
Dalam Zamzam ada semangat memberi. Itulah sebabnya, Pemerintah Arab Saudi mengharamkan siapa pun menjual belikan air Zamzam. Semua negara yang menerima air Zamzam harus dalam keadaan gratis. Kalaupun ada orang yang menjualbelikan air Zamzam, mereka hanya menghitung harga transportasi dan kemasannya, bukan pada nilai airnya. Sebab, nilainya tak terhingga.
Air Zamzam sebagaimana air bening pada umumnya, namun berbeda khasiatnya. Air ini mengenyangkan orang yang meminumnya, mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Setiap jemaah haji dapat memperoleh air Zamzam dengan mudah di mana pun berada secara gratis. Di masa lalu, jemaah dapat mengambil sendiri air Zamzam dari sumbernya menggunakan timba. Tapi kemudian timba itu diganti menggunakan mesin penyedot. Beberapa tahun yang lalu, jemaah dapat melihat sumur beserta mesin pompanya dengan cara menuruni anak tangga di dekat Kabah. Namun seiring dengan semakin banyaknya jemaah haji, jalan ke arah air Zamzam kini ditutup dan dijadikan sebagai tempat bertawaf.
Jemaah haji sekarang tinggal melihat hasil akhirnya berupa air yang dapat diminum dari galon atau pancuran yang dipasang di berbagai tempat agar mudah terjangkau. Berkaitan dengan Zamzam selalu terkesan dengan semangat memberi. Betapa tidak, saat jutaan orang berkumpul, jemaah dapat menikmati minum sepuasnya secara bersama-sama, tanpa kekurangan. Pemerintah Arab Saudi selalu menyiapkan gelas plastik yang amat ringan dan begitu mudah mencampakkannya setelah selesai dipakai. Cara kerja yang amat efisien dan efektif, sehingga tidak menyebabkan gelas berantakan atau air tercecer ke mana-mana.
Galon air Zamzam disiapkan di sepanjang koridor masjid. Jemaah yang “terjebak” di dalam saat puncak haji jangan khawatir kehausan. Sebab di dalam masjid yang penuh sesak selalu disiapkan air ini. Cara minumnya pun selalu memperlihatkan kerja sama satu jemaah dengan yang lainnya. Saat minum, satu dengan yang lain saling kerja sama. Seorang dari rombongan biasanya menuangkan air, yang lainnya menerima dan tinggal meminum. Tak perlu mencuci gelas, tinggal lempar ke tempat pembuangan sampah, bahkan pembuangan gelas khusus. Benar-benar, luar biasa, semangat memberi dan berbagi, bukan semangat menerima, bukan semangat meminta, apalagi bukan semangat mencuri. Na`udzibillah. (Wachu)

Sumber: www.depag.go.id

Oleh: ayopeduli | 29 Oktober 2009

Cara Mencari Arah Kiblat

Yuni Ikawati

KOMPAS.com – Arah kiblat menjadi prasyarat menjalankan ibadah shalat. Di mana pun umat Islam menjalankan ritual keagamaan itu, mereka harus berkiblat ke Kabah di Mekkah. Penentuan arah kiblat tentu tak masalah bagi mereka yang berada di dekat Kabah. Bagaimana memastikannya jika berada jauh dari tempat suci itu?

Beberapa waktu lalu di internet muncul tulisan Usep Fathudin, mantan Staf Khusus Menteri Agama, yang mengungkap beragam arah kiblat masjid-masjid di Jakarta. Kesahihan kiblat suatu masjid, menurutnya, perlu dicapai sebelum masjid dibangun. Hal itu karena pergeseran 1 sentimeter saja bisa berarti 100 kilometer penyimpangan jaraknya.
Meskipun begitu, menurutnya, akurasi arah kiblat 100 persen memang tidak diwajibkan dalam shalat, seperti tersebut dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 144, yang memerintahkan untuk shalat ke arah kiblat. ”Kata-kata ’ke arah’ ditafsirkan sebagai usaha maksimal mengarahkan shalat kita ke Kabah di Mekkah,” urainya.

Walaupun begitu, upaya untuk mendekati ketepatan arah ke kiblat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Usep menyebutkan, penentuan arah kiblat Masjid Al Mukhlishun di Griya Depok Asri, Depok Tengah, yang berdiri tahun 2001, menggunakan suatu kompas kecil berbahasa Inggris, dengan tulisan Latin dan Arab.

Pada alat penunjuk arah itu tertulis bahwa untuk Jakarta dan sebagian besar kota di Indonesia, arah utara jarum kompas harus menunjuk angka 9 sebagai arah kiblat.
Kenyataannya, survei arah kiblat yang dilakukannya di berbagai masjid besar di Jakarta memperlihatkan, kompas yang digunakannya menunjuk arah yang berbeda-beda di tiap tempat ibadah itu, berkisar dari 7,5 hingga 9.

Penentuan arah kiblat yang dipakai umumnya mengacu pada arah utara geografis sebenarnya, yang memakai arah kompas atau jarum magnetik yang disebut ”pencari arah Kabah”. Arah jarum magnetik di kompas mengarah berdasarkan kutub magnetik Bumi di kutub utara.

Ternyata arah utara magnetik Bumi itu berbeda di tiap kota dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh rotasi Bumi. Penelitian menunjukkan arah utara magnetik terus bergeser sekitar 4,8 kilometer per tahun. Pada tahun 2005 pergeserannya mencapai 800 kilometer dari kutub utara sebenarnya. Pada 2050 diperkirakan utara magnetik Bumi mendekati Siberia.

Qibla Locator

Penggunaan kompas sebagai penunjuk arah kiblat belakangan memang dianggap kurang akurat. Belakangan diperkenalkan peranti lunak Qibla Locator yang termuat dalam situs web http://www.qiblalocator.com.
Qibla Locator atau penunjuk arah kiblat antara lain dirancang oleh Ibn Mas’ud dengan menggunakan peranti lunak aplikasi Google Maps API v2, sejak tahun 2006. Pengembangan tampilan dan aplikasinya kemudian melibatkan Hamed Zarrabi Zadeh dari Universitas Waterloo di Ontario, Kanada.

Pada Qibla Locator versi Beta seri 0.8.7 itu dilengkapi dengan geocoding dari Yahoo, pengontrol arah pada citra peta, dan indikator tingkat pembesaran. Hingga September 2007 dihasilkan empat versi Beta dengan beberapa aplikasi tambahan, Geocoder, dan tampilan jarak.
Dengan Qibla Locator yang berbasis Google Earth ini dapat diketahui arah kiblat dari mana pun kita berada. Untuk mengetahuinya, di bagian atas situs itu ada kotak untuk memasukkan lokasi, alamat atau nama jalan, kode pos, dan negara atau garis lintang dan garis bujur.

Maka di sisi kanan gambar peta akan muncul besaran arah kiblat atau kabah dan jaraknya dari posisi lokasi yang kita masukkan. Peranti lunak ini, menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sangat membantu guna mengecek arah kiblat secara akurat. ”Ini bisa untuk koreksi massal masjid-masjid di Indonesia,” katanya.

Bayangan matahari

Thomas, pakar astronomi dan astrofisika, mengemukakan bahwa ada penentuan arah kiblat yang menggunakan bayangan Matahari. Sekitar tanggal 26-30 Mei pukul 16.18 WIB dan 13-17 Juli pukul 16.27 WIB Matahari tepat berada di atas kota Mekkah.

Pada saat itu Matahari yang tampak dari semua penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Kabah. Begitu pula bayangan benda tegak pada waktu itu juga dapat menjadi menentu arah ke kiblat.

Selain itu untuk daerah yang tidak mengalami siang, sama dengan Mekkah, waktu yang digunakan adalah saat Matahari di atas titik yang diametral dengan Mekkah. Waktu yang dapat dijadikan patokan penunjuk kiblat untuk wilayah tersebut adalah Matahari pada tanggal 12 hingga 16 Januari pukul 04.30 WIB dan 27 November hingga 1 Desember pukul 04.09 WIB.

Cara ini menurutnya paling mudah untuk mengoreksi arah kiblat, termasuk untuk garis saf di dalam masjid. Begitu mudah sehingga orang awam pun dapat melakukannya.

Editor: wsn
Sumber : Kompas Cetak, Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh: ayopeduli | 20 Oktober 2009

Rumah di Surga

“Di depan ada kotak amal masjid yang belum selesai dibangun, siapa mau amal?”, Kataku kepada kedua buah hatiku ketika mobil kami memasuki jalan kecil sebelah selatan Jatim Expo, Surabaya.
“Ini pak, uang jajan Adik” diulurkannya dua lembar ribuan ke arahku, kemudian diletakkan di pangkuanku karena tanganku lagi pegang setir. Saat lewat kotak amal di depan Masjid…. Plung… uang berpindah ke dalam kotak bertuliskan Amal Jariyah.
“Kalo kita nyumbang masjid, kita dapat pahala ya pak?”.
”Iya, ikut nyumbang membangun masjid termasuk amal jariyah. Amal Jariyah termasuk salah satu amalan yang pahalanya akan terus mengalir walaupun kita sudah meninggal. Sedikit apapun sumbangan kita dik… asalkan ikhlas.. Insyaallah dengan uang jajanmu tadi, nanti Adik akan dibangunkan oleh Allah sebuah rumah di surga” kataku menerangkan.
”Rumah di surga pak? Emang ada rumah di surga?”
”Iya sayang… dalam suatu Hadist, dikatakan bahwa : Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridhaan Allah maka dibangunkan baginya yang serupa di surga. Tak terasa kedua mataku basah oleh air mata ketika mengucapkan kata-kata itu, mengalir begitu saja.
”Sebesar apa rumah di surga pak? Apa sebesar rumah kita sekarang? bagus ya pak?”, tanyanya lagi.
”Kita tidak tahu seperti apa rumah di surga itu Dik…. rumah di surga lebih baik dan lebih indah dari rumah apapun yang pernah kita temui di dunia.”
Itulah sepintas percakapan kami di mobil saat mengantar anak sekolah di pagi hari. Mungkin remeh, namun paling tidak ada nilai-nilai keislaman yang bisa kita tanamkan dalam aktivitas keseharian selama berinteraksi dengan anak.
Jadi anak sholeh ya nak… Insyaallah.

Oleh: ayopeduli | 2 September 2009

Memaksimalkan Full Day School di SD

SEBUAH refleksi menarik dimuat harian ini pekan lalu (baca: Full Day School Belum Optimal). Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengakui bahwa pelaksanaan full day school di metropolis kurang maksimal. Khususnya, pada level sekolah dasar.

Beliau juga membeberkan bahwa hal itu, antara lain, disebabkan kurangnya kreativitas guru dalam mengelola joyful learning. Akibatnya, murid cenderung bosan dan lelah mengikuti pelajaran hingga sore. Beliau lalu melontarkan solusi bahwa dispendik akan menggiatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan guru mengelola joyful learning.
Dispendik Surabaya memang terkesan sangat berkomitmen mendorong SD-SD di metropolis untuk menerapkan full day school. Alasannya, full day school terbukti mampu menekan angka kenakalan remaja.

Logis. Karena sibuk bersekolah, anak tidak punya waktu untuk berbuat aneh-aneh sepulang sekolah. Itu sejalan dengan kecenderungan orang tua metropolis yang tidak punya cukup waktu untuk berinteraksi dengan anak karena sibuk mencari nafkah.

Bila full day school hendak dilaksanakan dengan sukses, yang harus dibenahi adalah penataan kesepahaman sekolah pelaksana dan wali murid. Bila anak harus menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah, harus ada alasan sangat kuat yang menguntungkan bagi pembentukan kepribadian anak. Kita harus kembali pada pemikiran awal, kenapa seorang anak harus pergi ke sekolah. Bila itu tidak dilakukan, pembicaraan mengenai full day school hanya akan menjadi lingkaran setan debat kusir.

Sekolah bukan mesin cuci. Sekolah bukan tempat menyelesaikan permasalahan hubungan keluarga yang buruk. Ketika orang tua terpaksa sibuk bekerja dan khawatir anaknya nakal, lalu memilih sekolah sebagai jalan keluar, itu jelas salah. Sekolah akan selalu dituntut bisa memproteksi anak dari kemungkinan menghabiskan waktu di luar sekolah. Sekolah dituntut menyelesaikan implikasi apa pun dari kurangnya hubungan orang tua-anak.

Anak yang frustrasi, kosong mental, menyimpan amarah psikologis, ditekan untuk berada di sekolah. Celakanya, saat ini, sekolah sebagai mesin cuci belum bisa dikategorikan baik. Sekolah baru bisa menahan anak berada di sekolah secara fisik, belum menjadi rumah yang nyaman bagi alam pikir anak.

Akibatnya, sekolah bisa-bisa menjadi kumpulan anak bermasalah. Mungkin karena itu, banyak sekolah enggan melaksanakan full day school. Sungguh mengerikan bila sekolah mau menjadi mesin cuci dengan ketidaksiapan amat sangat seperti itu.

Sekolah mestinya menjadi wahana anak mengembangkan kepribadian menjadi manusia yang utuh. Mungkin, latar keluarga si anak tidak harmonis. Namun, bila sekolah dan wali murid memiliki pemahaman di atas, bisa diharapkan anak yang melalui hari-hari di sekolah dalam rentang waktu tertentu tumbuh menjadi manusia yang diharapkan. Kesepahaman itu mestinya terwujud dalam komunikasi yang intens dan terstruktur antara sekolah dan wali murid.

Lalu, kesiapan apa yang perlu dilakukan sekolah? Pertama, sekolah harus memiliki kurikulum yang menekankan kebutuhan siswa. Istilah kerennya, pembelajaran berpusat pada siswa atau student-centered learning. Ketika kurikulum berpusat pada siswa, ia akan bertumpu kepada aktivitas siswa. Tidak seperti parrot learning yang selama ini masih dilakukan di banyak sekolah.

Parrot learning adalah proses belajar yang menekankan pada menghafal. Yang dikejar adalah penguasaan pengetahuan deklaratif. Bila ingat sesuatu, maka ia belajar. Anak akan menghabiskan waktu menghafal bagian tubuh di mata pelajaran sains, menghafal siapa saja raja Dinasti Syailendra di sejarah, menghafal rumus-rumus matematika, bahkan menghafal apa saja bagian-bagian komputer.

Memang, bila kita tidak ingat apa-apa tentang apa yang kita pelajari, ada kemungkinan kita tidak belajar. Namun, penekanan proses belajar pada aktivitas pengingatan fakta semata seperti itu kurang lebih sama dengan mengajari burung kakak tua berbicara. Karena itu, muncul istilah parrot learning.

Sekolah dengan student-centered learning akan memaksimalkan siswa dengan aktivitas menemukan pemahaman sendiri. Ketika memelajari bagian-bagian komputer, anak akan sibuk mengeksplorasi komputer hingga tahu mana mouse, keyboard, dan sebagainya tanpa si guru harus berbusa-busa menjelaskan. Guru mungkin sedikit menjelaskan untuk mengarahkan aktivitas anak.

Namun, secara umum si anaklah yang sibuk beraktivitas dengan guru sibuk mengobservasi seberapa jauh anak belajar. Anak SD suka beraktivitas. Bila mereka gembira beraktivitas, waktu belajar yang panjang tidak akan membosankan.

Konsekuensi penerapan student-centered learning adalah kesiapan dan kualitas guru. Dispendik dituntut intens memberikan pelatihan kepada guru SD. Sedikit saran, berdasar pengalaman, pelatihan masal tidak efektif.

Kesiapan terakhir adalah pengelolaan pembiayaan. Menerapkan full day school berarti menahan anak lebih lama di sekolah. Itu berarti pemenuhan kebutuhan dasar (konsumsi) menjadi tanggung jawab sekolah. Itu tidak murah.

Belum lagi pendanaan kegiatan belajar. Aktivitas siswa mengonstruksi pemahaman sebaiknya otentik, tidak hanya indoor activities, tapi juga outdoor activities. Pendanaan outdoor activities juga tidak murah.

Media pembelajaran yang variatif dan interaktif tetap saja menuntut penganggaran tidak sedikit, demikian pula pelatihan guru yang intens dan terencana.

Bantuan operasional pusat dan daerah memang sudah dikucurkan. Namun, di lapangan, kedua mekanisme pembiayaan itu belum maksimal, apalagi dalam konteks menerapkan full day school. Untuk pembiayaan reguler saja, masih ada keluhan karena sekolah tidak lagi bisa menarik iuran dari orang tua.

Mungkin alternatifnya adalah kepala sekolah memiliki visi kewirausahaan. Bisa menggali dana dari pihak ketiga atau melalui unit usaha yang dikembangkan sekolah. Namun, kepala sekolah bermental wirausaha, kalaupun ada, mungkin baru bisa dihitung dengan jari. (soe)

Oleh: Rendra Prihandono, Kepala SD YPPI 1 Surabaya
Sumber: Harian Jawa Pos, Minggu 30 Agustus 2009

Oleh: ayopeduli | 2 September 2009

Full Day School, Bikin Pergaulan Anak Terarah

UNTUK itu, memilih sekolah harus dipertimbangkan secara matang. Itu juga yang dilakukan Irit Suseno. Irit memilih menyekolahkan putri tunggalnya di sekolah full day ketika memasuki usia sekolah dasar. Natasha Pramudita, putrinya, bersekolah di SD Daarut Taqwa kelas IV.

Pemilihan sekolah tersebut sudah didasari berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah lingkungan sosial anak bisa terkontrol. “Sekolah full day membuat pergaulan putri saya lebih terarah. Daripada di luar rumah, takutnya tidak terarah. Apalagi, saya dan istri sama-sama bekerja,” ujar dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 tersebut.

Di samping itu, lanjut Irit, usia sekolah dasar merupakan usia karakter anak mulai terbentuk. “Jadi, saya tidak ingin karakter anak saya berkembang tidak baik. Karena itu, saya pilih sekolah yang berlatar agama juga,” terang pria 47 tahun tersebut.

Untuk menyeimbangkan kemampuan adaptasi buah hatinya, Irit akan memilih sekolah menengah pertama (SMP) umum. Tujuannya, kemampuan bergaulnya bisa lebih luas.

Berbeda halnya dengan Hari Susanto. Hari memilih menyekolahkan kedua putrinya di sekolah reguler. Dia menerangkan, kedua putrinya membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Di samping itu, pria yang tinggal di kawasan Ngagel tersebut tidak ingin kedua buah hatinya kehilangan tanggung jawab di rumah. “Istilahnya, jadi tidak terbiasa dengan lingkungan rumah,” ucap Hari. (ken/tia)

Sumber: Harian Jawa Pos, Minggu 30 Agustus 2009, halaman 44

Oleh: ayopeduli | 2 September 2009

Full Day School Belum Optimal

SURABAYA – Pelaksanaan sekolah dengan sistem full day school dianggap tidak terlalu berhasil. Pasalnya, masih banyak sekolah yang belum menerapkan konsep yang mulai diperkenalkan setahun lalu itu. Sebagian besar yang belum menerapkan adalah sekolah-sekolah jenjang SD.

”Untuk sekolah jenjang SD masih 20 persen yang melaksanakan, namun untuk SMP dan SMA sudah 80 persen,” terang Kadispendik Surabaya Sahudi.

Ia menjelaskan, kendala dalam pengembangan konsep full day school di seluruh sekolah Surabaya adalah bagaimana membuat pembelajaran yang menyenangkan. Pasalnya, dengan sistem full day school, siswa harus berada di sekolah sepanjang hari. Jika pembelajarannya tidak menyenangkan, siswa bakal bosan dan pelajaran sulit terserap. ”Joyful learning inilah yang sedang berusaha kami kembangkan di sekolah-sekolah yang telah mengadopsi sistem full day school,” ujar Sahudi.

Penerapan sistem pembelajaran yang joyful learning ini, terang Sahudi, terkendala sarana prasarana dan kreativitas guru. Saat ini, khususnya di sekolah-sekolah negeri, masih banyak guru yang kemampuannya pas-pasan. Begitu juga dengan sarana prasarananya.

”Untuk itulah, ini menjadi PR bagi dinas dan pihak sekolah. Jangan sampai siswa tidak bisa menyerap pembelajaran yang diberikan karena jenuh di sekolah,” tegasnya.

Salah satu penerapan metode yang bisa dilakukan adalah dengan real teaching. Misalnya, untuk pengajaran jual beli, guru bisa membawa siswanya ke super market atau tempat-tempat lain yang berhubungan dengan pelajaran. ”Nah, ide-ide seperti inilah yang harus diperbanyak. Guru harus kreatif mencari tehnik pembelajaran yang menarik minat siswa,” jelas Mantan Kepala SMAN 15 ini.

Untuk meningkatkan jumlah sekolah yang menerapkan full day school dan menaikkan kualitas sekolah yang telah menerapkan sistem tersebut, Dispendik berencana terus menggelar pelatihan guru. Selain itu, pemkot juga memberikan berbagai bantuan berupa perangkat pembelajaran.

Penerapan sekolah dengan sistem full day school secara besar-besaran dilakukan awal tahun lalu. Dispendik beralasan bahwa sistem full day school ini bakal mampu mengurangi siswa yang nakal. Pasalnya, hampir semua orang tua di metropolis baik ayah maupun ibu bekerja. Jika anak pulang dan tidak ada orang tua di rumah maka ia akan tanpa pengawasan. Ujung-ujungnya, mereka akan terjerumus dalam kenakalan remaja.

”Sekarang kan bisa dilihat sendiri buktinya, meski di kota besar tapi di Surabaya tidak ada perkelahian pelajar kan,” terangnya. (sha/oni)

Sumber : Jawa Pos Sabtu, 22 Agustus 2009

Oleh: ayopeduli | 31 Agustus 2009

Full Day School atau Regular School

DUNIA pendidikan terus berkembang. Sekolah-sekolah pun makin banyak bermunculan. Ada yang menerapkan sistem full day; banyak juga yang masih mengaplikasikan sistem reguler. Menurut psikolog Setyaningsih SPsi MSi, memilih sekolah yang tepat disesuaikan dengan potensi buah hati. “Karena itu, orang tua harus paham betul dengan potensi yang dimiliki buah hatinya,” ujar dosen Jurusan Psikologi Universitas Trunojoyo tersebut.

Pilihan sekolah full day atau reguler, lanjut psikolog 40 tahun itu, juga bergantung pada potensi anak. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tersebut menjelaskan, potensi anak itu berkaitan dengan tiga aspek. Yaitu, kognitif yang berhubungan dengan proses berpikir anak, afeksi atau kebutuhan emosi, serta psikomotorik terkait dengan aktivitas anak. Tiga aspek tersebut harus diperhatikan orang tua dalam menentukan sekolah yang akan dipilih.

Anak yang memiliki kemampuan berkonsentrasi tinggi serta kondisi fisik bagus bisa disekolahkan di full day school. Tipe anak yang aktif juga cocok bersekolah di sekolah jenis full day. “Karena sekolah full day, waktu belajarnya cukup panjang. Sehingga, dibutuhkan kondisi fisik yang prima serta kemampuan konsentrasi tinggi,” kata ibu satu putri itu. Tapi, sekolah jenis ini juga rawan mengakibatkan stres pada anak karena banyak aktivitas yang dilakukan dalam sehari.

Sementara itu, anak dengan kondisi fisik yang lemah serta berkarakter tertutup lebih baik dimasukkan ke sekolah reguler (regular school). Pasalnya, sekolah jenis ini tidak menguras energi buah hati. (ken/tia)

Sumber: Harian Jawa Pos, Minggu 30 Agustus 2009, halaman 44

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Surabaya berhasil meraih penghargaan Caring Public Service Award, salah satu kategori penilaian pada Surabaya Public Service Award (SPSA) tahun 2009 yang diselenggarakan Universitas Kristen Petra Surabaya. SPSA sendiri merupakan ajang tahunan penganugerahan penghargaan terhadap layanan publik yang dianggap telah memberikan pelayanan bagus di Kota Surabaya selama periode survey.
Diantara 25 perusahaan/ instansi layanan publik yang disurvey pada bulan April hingga Juni 2009, Kantor Pelayanan Pajak Surabaya berhasil menjadi nominator pada semua kategori: Caring Public Service, Trust Public Service, Benefit Public Service dan Outstanding Public Service, serta berhasil meraih penghargaan pada kategori Caring Public Service.
Pemberian penghargaan diselenggarakan pada tanggal 11 Agustus 2009 di Hotel Singgasana Surabaya yang dihadiri para pimpinan dari perusahaan/ instansi layanan publik yang disurvey. Hadir pula peserta lomba penulisan esai Public Creative Voice (PCV) yang telah ikut urun rembuk memberikan ide kreatif dalam menyemangati peningkatan kualitas layanan publik di Kota Surabaya.
Perusahaan/ institusi layanan di Kota Surabaya yang dinilai dalam SPSA 2009 adalah Perpustakaan Daerah, Biro Pusat Statistik (BPS), TVRI, Radio Republik Indonesia (RRI), PT. Telkom, PT. Pos Indonesia, Polwiltabes, Pengadilan Negeri, Imigrasi, Kantor Pelayanan Pajak, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, PT. PLN, PDAM, Pertamina, PT. Kereta Api Indonesia, PT. Angkasa Pura, PT. Pelindo, PT. Damri, Samsat, PT. Jasa Marga, RSUD Dr. Soetomo, RSJ Menur, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Pemadam Kebakaran.
Caring Public Service sendiri adalah kategori penghargaan yang diberikan terhadap layanan publik yang bagus dalam emphaty dan responsif terhadap kebutuhan pengguna layanan. Kantor Pelayanan Pajak Surabaya meraih penghargaan dalam Caring Public Service Category karena dinilai mampu memberikan layanan publik yang memudahkan pengguna layanan, komunikasi yang baik, sikap ramah dan sopan, peduli dan perhatian terhadap pengguna layanan, serta mampu memahami kebutuhan pengguna layanan dengan rasa tanggap agar waktu layanan cepat dan tepat.

Oleh: ayopeduli | 24 Juli 2009

Zakat Ditunaikan, Pajak Makin Ringan

Zakat yang dibayarkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi atau Badan dapat menjadi pengurang Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) pada tahun berkenaan, sepanjang dibayarkan melalui Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.

Ketentuan bahwa zakat harus diterima oleh Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, dimaksudkan sebagai syarat untuk diakuinya zakat sebagai pengurang penghasilan. Syarat tersebut merupakan alat kontrol bagi pemerintah dan Wajib Pajak terkait dengan kebenaran pembayaran zakat yang dilakukan Wajib Pajak.

Untuk itu para pembayar zakat (muzakki) yang sekaligus Wajib Pajak sebaiknya cermat memilih BAZ atau LAZ tempat memberi amanah dalam berzakat. Pilihlah BAZ atau LAZ yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Di tingkat nasional terdapat Baznas yang didirikan tahun 2001 berdasar SK Presiden Nomor 8/2001 serta terdapat 32 Badan Amil Zakat tingkat daerah (Bazda) dan 400 badan tingkat kabupaten di seluruh Indonesia. Sementara itu LAZ telah terbentuk di tingkat nasional dan LAZ tingkat propinsi.

Dalam menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak, zakat boleh dikurangkan dari penghasilan bruto Wajib Pajak Badan atau penghasilan neto Wajib Pajak Orang Pribadi. Penghasilan yang dimaksud disini adalah penghasilan yang merupakan Objek Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final.

Besarnya zakat yang dapat dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak adalah sebesar 2,5 % (dua setengah persen) dari jumlah penghasilan.

Zakat atas penghasilan wanita kawin dan penghasilan anak yang belum dewasa, yang pengenaan pajaknya digabungkan dengan penghasilan suami/ orang tua, dikurangkan dari penghasilan suami/ orang tuanya.

Pengurangan zakat atas penghasilan dilakukan dalam tahun pajak dilaporkannya penghasilan sesuai dengan tahun diterima/ diperolehnya penghasilan. Jika dalam tahun pajak dilaporkannya penghasilan dalam SPT Tahunan, zakat atas penghasilan tersebut belum dibayar, maka pengurangan zakat atas penghasilan dapat dilakukan dalam tahun pajak dilakukannya pembayaran sepanjang Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa penghasilan tersebut telah dilaporkan dalam SPT Tahunan tahun pajak sebelumnya.

Bagaimana Caranya?
Beritahukan Nama, Alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan keterangan lain kepada petugas penerima setoran Zakat di BAZ atau LAZ untuk keperluan pembuatan Surat Setoran Zakat. Kemudian lampirkan Surat Setoran Zakat tersebut (atau fotokopinya yang telah dilegalisir) pada Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan PPh sebagai pengurang perhitungan Pajak Penghasilan.

Perlakuan zakat yang dapat berfungsi sebagai pengurang perhitungan Pajak Penghasilan, berlaku pula bagi sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. Ketentuan ini dijamin oleh Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (PPh).

Jadi, tunaikan zakatnya dan nikmati hak Anda sebagai Wajib Pajak dalam hal pengurangan penghitungan Pajak Penghasilan.

Sumber: Koran Seputar Indonesia, Jum’at 11 September 2009 halaman 28

Tulisan Sebelumnya »

Kategori