Oleh: ayopeduli | 26 Mei 2009

Arti Sebuah Nama

Oleh: Sri Vira Chandra, S.S.
Lebih dari ‘sekadar’ sebuah agama, Islam sebagai way of life mengkonsepkan bahwa pemberian nama seseorang merupakan bagian yang padu dari proses pendidikan. Sebuah nama berkaitan erat dengan penyandangnya: Ketika namanya disebut, secara tidak langsung ia didoakan oleh orang yang memanggilnya. Pun tidak jarang seseorang tersugesti untuk merealisasikan namanya. Nama juga digunakan Rasulullah SAW sebagai reward atas jasa seseorang terhadap Islam.
Dengan kebagusan namanya, setiap umat Muhammad diharapkan akan hadir di tengah manusia – di dunia dan akhirat – dengan penuh izzah (kebanggaan) serta keistimewaan akhlaknya. Rasulullah SAW sendiri mempunyai dua nama yang mempunyai arti sama “Yang Terpuji” yaitu Ahmad (QS 61:6) dan Muhammad (QS Muhammad). Dipadu dengan keindahan akhlaknya, beliau hadir sebagai figur ideal yang memang pantas untuk “dipuji”.
Allah SWT secara tegas melarang sesama mukmin untuk memberikan julukan yang buruk (QS Al Hujuraat: 11). Hal ini diperkuat pula dengan perintah Rasulullah SAW untuk menamai seseorang dengan nama-nama yang baik; karena pada hari kiamat kelak setiap peserta hisab akan dipanggil dengan namanya digandengkan dengan nama bapak masing-masing (HR Abu Dawud dengan sanad hasan).
Dalam proses pendidikan umat Rasulullah SAW juga mencanangkan ‘gerakan pemberian nama baik’ untuk para mukmin. Nama-nama buruk diganti dengan nama yang baik, seperti Harb (perang) diganti dengan Salim (damai), Al-Mudhhaji’ (yang berbaring) menjadi Al-Muba’its (yang bangkit/ gesit), Hazn (susah) menjadi Sahl (mudah), dsb.
Sementara nama yang sudah baik dihiasi dengan julukan yang menggambarkan nilai plus seseorang seperti julukan-julukan Singa Allah (Hamzah bin Abdul Muthalib), Hawari Rasulullah (Zubair bin Awwam), Yang Cemerlang dan Yang Suci (Fatimah binti Muhammad), Al Faruq (Umar bin Khatab) dikalungkan kepada tokoh terdepan Islam sebagai reward bagi jasa-jasanya dalam syiar dakwah Islam.
Adapun hikmah yang dapat kita petik dari gambaran di atas adalah: Pertama, Rasulullah SAW sebagai murabbi (pendidik) utama sungguh memperhatikan secara cermat segala aspek dalam diri mutarabbi (anak didik)-nya. Dalam hal ini aspek psikologis menjadi sorotan utama beliau.
Kedua, mari kita mengakui kesalahan kita selama ini. Kita semua merupakan murabbi, paling tidak untuk putra/ putri kita masing-masing. Sudahkah kita memberikan nama yang baik, atau julukan yang baik sebagai reward (hadiah) atas sikap mereka yang manis? Ataukah kita lebih sering memberikan mereka julukan yang memalukan sebagai punishment (hukuman) ?
Sementara itu patut disayangkan bahwa nama-nama bagus semisal Siti Aisyah, Ahmad, Nurlaila dan Salamah dikisahkan secara ’miring’ dalam beberapa lagu yang berkonotasi erotisme jahiliyah. Hal ini sedikit banyak menjadi ”sebab nila setitik rusak susu sebelanga”. Untuk membersihkan susu, ”Gerakan Nama Baik untuk Semua” ada baiknya dibudayakan kembali.
Masalahnya, siapkah kita mendidik putra/ putri kita menjadi pribadi sesuai namanya?
(Ditulis kembali secara utuh dari rubrik Hikmah Republika edisi 09 Januari 1997)


Kategori

%d blogger menyukai ini: