Oleh: ayopeduli | 4 Juni 2009

Takut Mati

Oleh Idris Thaha
Ada seorang laki-laki yang disebut-sebut selalu di sisi Nabi Muhammad SAW. Orang itu sering dipuji dengan baik. Lalu Rasulullah bertanya, “ Bagaimana teman kalian itu menyebut mati?” “Kami hampir tidak pernah mendengar ia mengingat mati.” jawab mereka.
”(Jika begitu), maka sesungguhnya teman kalian itu bukanlah di situ (di sisi Nabi),” jawab Rasulullah.
Sahabat dari kaum Anshar bertanya. ”Wahai Nabi, siapakah manusia yang paling cerdas dan mulia?”
”Mereka yang sering mengingat mati dan (tekun) mempersiapkan diri menghadapai kematian. Mereka pergi dengan kelegaan dunia dan kemuliaan akhirat,” sabda Nabi.

Memasuki tahun baru ini, kiranya kita perlu mengingat hadis di atas, yang dikutip Imam Ghazali dalam Teosofia Al-Qur’an. Dalam setiap pergantian tahun, sebenarnya umur kita semakin mengurang. Hari-hari kehidupan kita semakin dekat dengan liang kubur alias kita akan mati.
Menurut Ghazali, dalam syariat islam, kita akan mendapatkan pahala besar kalau sering mengingat kematian. Sabda Nabi, ”Aku tinggalkan dua pemberi peringatan di tengah-tengah kalian, yang diam dan yang dapat berbicara. Yang diam adalah maut (mati), sedangkan yang berbicara adalah Alquran.”
Dalam Alquran, Allah tegas mengatakan, ”Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 62:8)
Namun demikian, tak jarang sebagian kita merasa takut menghadapi kematian. Takut mati, kata Murtadha Muthahhari dalam Jejak-Jejak Ruhani, merupakan insting dan alami pada setiap makhluk hidup. Bayangan kematian adalah bayangan yang sangat menakutkan. Jika kita takut terhadap sesuatu, karena sesuatu itu akan membawa kepada kematiannya. ”Sekiranya kematian itu tidak ada di tengah manusia, niscaya tidak ada sesuatu pun yang ditakutinya,” tulis Muthahhari.
Menurut Ibn Miskawaih dalam Menuju Kesempurnaan Akhlak ada beberapa kemungkinan kenapa takut mati sering menghantui kita. Diantaranya, mungkin kita tidak tahu apa mati itu; tidak tahu di mana sebetulnya jiwa akan pergi nanti; salah menduga bahwa tubuh dan jiwa akan hancur tanpa bekas dan ada penderitaan yang sangat menyakitkan; takut siksa dan bingung apa yang akan kita hadapi setelah mati; atau kita terlalu sayang harta sehingga sedih meninggalkannya. ”Seluruh prasangka ini adalah salah dan tak terbukti sama sekali,” tulisnya.
Kalau kita takut mati, berarti kita takut terhadap apa yang mesti didambakan. Kematian, kata Ibn Miskawaih, sebenarnya merupakan perwujudan dari apa yag tersirat dalam definisi tentang manusia sebagai mahkluk hidup, berpikir, dan akan mati.
Artinya, kematian justru menyempurnakan manusia. Lewat kematian, manusia mencapai bidang kehidupannya yang paling tinggi.
(ditulis kembali secara utuh dari rubrik Hikmah Republika Januari 1997)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: