Oleh: ayopeduli | 23 Juni 2009

Karakter Rasulullah

Oleh: Alwi Shahab

Fondasi tunggal Rasulullah dalam membangun agamanya sebagai basis bagi kehidupan manusia di dunia adalah tauhid. Menurut prinsip tauhid, zat yang merupakan sumber alam semesta dan patut disembah hanya Allah SWT. Seseorang tidak boleh mengagungkan dan memasrahkan dirinya pada zat selain Allah. Apalagi yang bisa menjurus pada musyrik yang dikategorikan menyekutukan Allah. Akidah dan praktik yang dicontohkan Nabi inilah yang harus menjadi norma persaudaraan dan persamaan manusia, berupa kepatuhan mutlak manusia kepada Allah.

Ajakan kepada akidah ini merupakan hal pertama yang dilakukan Rasulullah agar ia menjadi batu pertama dalam bangunan umat Islam. Kekokohan akidah di dalam jiwa manusia akan mengangkatnya dari materialisme yang rendah dan mengarahkannya kepada kebaikan, keluhuran budi pekerti, kesucian, dan kemuliaan.
Apabila akidah ini telah berkuasa dalam jiwa manusia, ia akan melahirkan keutamaan yang tinggi, seperti keberanian, kedermawanan, kebajikan, ketentraman, dan pengorbanan. Dalam melaksanakan prinsip tauhid, Rasulullah telah menunjukkan kualitas moral paling baik dan sikap paling jujur serta menyerukan logika yang paling masuk akal. Para sahabat beliau juga menggunakan metode serupa dalam menjelaskan prinsip-prinsip agama.

Rasulullah memperlakukan semua orang sebagai saudara dan sederajat serta tidak pernah mengecualikan siapa pun dalam aturan-aturan agama. Tidak membedakan kawan dan orang asing, kuat dan lemah, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, atau kulit hitam dan putih. Beliau memberikan hak setiap orang berdasarkan hukum-hukum agama tanpa diskriminasi. Untuk itu, beliau pernah mengatakan, ”Jika putriku Fatimah mencuri, pasti akan kupotong tangannya.”

Pada tatanan ini, Rasulullah mengklaim tidak punya perbedaan khusus dalam kehidupan dan juga tak seorang pun yang mengenal beliau sebelumnya mempunyai hak-hak istimewa atas orang lain. Beliau tidak duduk di singgasana atau di tempat duduk paling atas dalam majelis. Bila bepergian, beliau naik kendaraan tanpa upacara-upacara khusus. Apabila menerima barang-barang tertentu, beliau memberikan kelebihan dari kebutuhan pokok kepada orang-orang miskin, meski kerap menderita lapar. Begitulah Rasul kita menjalani hidup.

(Sumber: wijayalabs.blogspot.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: