Oleh: ayopeduli | 6 November 2009

Zamzam, Gambaran Semangat Memberi

BEBERAPA hari menjelang Rasulullah saw. mangkat, para istrinya berkumpul dan bertanya, “Setelah Rasulullah wafat nanti, siapa di antara istri-istrimu yang paling pertama meninggal dunia sehingga menjadi orang pertama menemanimu?” Rasulullah pun menjawab, “Orang yang paling panjang tangannya.” Orang yang panjang tangannya artinya orang yang paling banyak memberikan derma.
Beberapa tahun sesudah Rasulullah wafat, ternyata istri beliau yang paling pertama meninggal adalah Juwairiyah binti Harits. Ia keturunan ningrat dari Bani Mustaliq yang dinikahi Rasulullah setelah ayahnya tewas dalam Perang Al-Muraisi`. Sebagai wanita, Juwairiyah memiliki keterampilan menjahit, bahkan dari keterampilannya ini beliau mampu menghasilkan uang yang cukup.
Rupanya, ungkapan Rasulullah sebelum meninggal benar, Juwairiyah adalah wanita yang amat sangat suka berderma. Semua uang hasil usahanya dihabiskan untuk menolong orang lain. Meskipun mampu hidup berkecukupan, tapi Juwairiyah memilih hidup sederhana. Bahkan sumbangan dari Khalifah sesudah Nabi mangkat pun didermakan kepada orang yang membutuhkan. Itulah sebabnya, beliau dijuluki “Barrah”, julukan yang hampir sama dengan “mabrur” bagi jemaah haji.
Sifat Juwairiyah tak lepas dari sikap Nabi yang selalu memberikan apa pun yang dibutuhkan oleh orang lain, baik dalam keadaan longgar maupun kedaan sempit. Menjelang wafatnya, Rasulullah sempat koma selama seminggu. Saat siuman, beliau bertanya kepada putrinya, Fatimah. “Wahai Fatimah, di mana emas beberapa gram yang aku titipkan kepadamu?” Dengan gugup Fatimah menjawab, “Ada. Ini masih ada Ya Rasulallah.”
Mendengar jawaban bahwa emas yang dititipkan masih utuh, Rasulullah pun marah luar biasa. Maka, beliau bersabda, “Saya harus berkata apa ketika menghadap Allah masih membawa harta benda seperti itu?” Artinya Rasulullah saat meninggal tidak ingin meninggalkan harta sedikit pun. Maka Fatimah pun kemudian membagikan emas itu kepada orang yang membutuhkan.
Demikianlah kemuliaan hati Muhammad saw. yang lebih suka memberi daripada menerima, apalagi meminta-minta. Beliau selalu memberikan apa pun yang dimiliki kepada setipa orang yang membutuhkan. Sikap Rasulullah tak terlepas dari sifat nenek moyangnya, Siti Hajar yang mewariskan sikap mulia itu. Istri Nabi Ibrahim a.s. ini telah mewariskan Zamzam untuk manusia dan kemanusiaan.
Alkisah, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk membawa istri keduanya, Siti Hajar bersama putranya, Ismail, ke lembah yang tandus di tengah padang Arab. Sesampainya di tujuan tersebut, Ibrahim hendak meninggalkan istri dan anaknya. Siti Hajar pun sempat menyusul suaminya sembari memegang kendali ontanya karena ketakutan ditinggal sendirian.
“Wahai suamiku, hendak ke mana engkau?” kata Siti Hajar gemetaran. Ibrahim tak tahan mendengar ungkapan istrinya yang mengiba. “Ini karena perintah Allah.”

Siti Hajar merupakan wanita yang taat. Maka apa pun yang menjadi keputusan suaminya, ia tak menolaknya. Persoalannya, setelah Ibrahim pergi, anaknya terus menerus menangis akibat memerlukan minum. Padang pasir yang panas dan tandus membuat Siti Hajar panik. Ia terus mencari sumber air. Saat berdiri di Bukit Safa ia melihat fatamorgana yang seakan-akan ada air di Bukit Marwa. Ia secara tergesa-gesa lari ke Bukit Marwa. Dari Marwa ia melihat seakan-akan ada air di Bukit Safa. Begitulah ia bolak-bolak antara Bukit Safa dan Marwa sebanyak 7 kali.
Ketika Siti Hajar panik dan nyaris putus asa, ia kemudian berjalan kaki beberapa meter dari arah Bukit Safa dan Marwa itu. Tiba-tiba ia menemukan air mengalir dari dalam tanah. Itulah yang ia namakan Zamzam. Sejak ada air, banyak masyarakat berdatangan ke tempat tersebut. Itulah awal Kota Mekah. Siti Hajar pun menyumbangkan air kepada siapa pun yang memerlukannya.
Air Zamzam itu kini masih ada dan telah diminum jutaan, miliaran, bahkan triliunan orang. Meskipun berada di wilayah yang jarang sekali turun hujan, Zamzam belum pernah mengalami kekeringan. Selain menjadi minuman bagi penduduk Mekah dan Arab Saudi, Zamzam juga diminum oleh bangsa-bangsa lain yang yang memerlukannya. Bahkan, setiap jemaah haji membawa air Zamzam sebagai oleh-oleh.
Dalam Zamzam ada semangat memberi. Itulah sebabnya, Pemerintah Arab Saudi mengharamkan siapa pun menjual belikan air Zamzam. Semua negara yang menerima air Zamzam harus dalam keadaan gratis. Kalaupun ada orang yang menjualbelikan air Zamzam, mereka hanya menghitung harga transportasi dan kemasannya, bukan pada nilai airnya. Sebab, nilainya tak terhingga.
Air Zamzam sebagaimana air bening pada umumnya, namun berbeda khasiatnya. Air ini mengenyangkan orang yang meminumnya, mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Setiap jemaah haji dapat memperoleh air Zamzam dengan mudah di mana pun berada secara gratis. Di masa lalu, jemaah dapat mengambil sendiri air Zamzam dari sumbernya menggunakan timba. Tapi kemudian timba itu diganti menggunakan mesin penyedot. Beberapa tahun yang lalu, jemaah dapat melihat sumur beserta mesin pompanya dengan cara menuruni anak tangga di dekat Kabah. Namun seiring dengan semakin banyaknya jemaah haji, jalan ke arah air Zamzam kini ditutup dan dijadikan sebagai tempat bertawaf.
Jemaah haji sekarang tinggal melihat hasil akhirnya berupa air yang dapat diminum dari galon atau pancuran yang dipasang di berbagai tempat agar mudah terjangkau. Berkaitan dengan Zamzam selalu terkesan dengan semangat memberi. Betapa tidak, saat jutaan orang berkumpul, jemaah dapat menikmati minum sepuasnya secara bersama-sama, tanpa kekurangan. Pemerintah Arab Saudi selalu menyiapkan gelas plastik yang amat ringan dan begitu mudah mencampakkannya setelah selesai dipakai. Cara kerja yang amat efisien dan efektif, sehingga tidak menyebabkan gelas berantakan atau air tercecer ke mana-mana.
Galon air Zamzam disiapkan di sepanjang koridor masjid. Jemaah yang “terjebak” di dalam saat puncak haji jangan khawatir kehausan. Sebab di dalam masjid yang penuh sesak selalu disiapkan air ini. Cara minumnya pun selalu memperlihatkan kerja sama satu jemaah dengan yang lainnya. Saat minum, satu dengan yang lain saling kerja sama. Seorang dari rombongan biasanya menuangkan air, yang lainnya menerima dan tinggal meminum. Tak perlu mencuci gelas, tinggal lempar ke tempat pembuangan sampah, bahkan pembuangan gelas khusus. Benar-benar, luar biasa, semangat memberi dan berbagi, bukan semangat menerima, bukan semangat meminta, apalagi bukan semangat mencuri. Na`udzibillah. (Wachu)

Sumber: www.depag.go.id


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: